Mengenal TPA Alterntif Al-Husna Graha Raya

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (Q.S. An-Nisaa’ :9)

“Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…..
(Q.S. At-tahrim :6)

Yang dimaksud dengan generasi yang lemah dalam ayat ini adalah generasi yang lemah ilmunya, lemah fisiknya, lemah ketrampilannya, lemah ekonominya, lemah akhlaqnya dan yang lebih parah lagi lemah imannya.Dan hendaklah orang tua memelihara diri dan keluarga kita agar jangan terseret kedalam api neraka.

Gaya hidup ‘baru’ yang tercipta dikalangan sebagian generasi muda menjadi ciri khas yang melekat dalam gaya pergaulan mereka. Pesta dan hura-hura menjadi pilihan utama dalam melakukan emosi dan keinginan. Tawuran antar pelajar yang terkadang nyawa sebagai taruhannya dalam alasan solidaritas atau entah apa alasannya adalah tradisi warisan turun temurun yang menjadi seni sehingga terkadang kita melihat para pelajar berseragam tersebut terbayang dalam pikiran kita adalah ‘tawuran’. Terlebih lagi ketika Narkoba, Free sex dan gaya permisivisme (gaya hidup serba boleh) dijadikan pelengkap hidup yang wajar dan biasa. Pencarian jati diri, kurangnya perhatian dan pengertian serta lingkungan yang ‘tidak sehat’ memiliki andil besar dalam mempengaruhi kehidupan mereka. Seabreg ‘stempel’ fenomena generasi pengganti kalau boleh generasi yang hilang tersebut bukanlah menjadikan kita harus kehilangan akal, surut mundur apalagi cuci tangan dan saling menyalahkan.

Instropeksi bagi para pendidik, orang tua dan para pemerhati, merupakan cara baik untuk melahirkan solusi yang sesuai dengan keinginan anak-anak dan searah dengan perkembangan zaman, sehingga dapat mengembalikan mereka dalam bentuk pergaulan yang sehat dan positif.

Herbert Spencer, pada awal abad ini, melontarkan pertanyaan: “ Pengetahuan apa yang paling berharga? “ Jawabanya: “ Pengetahuan yang memampukan kaum muda untuk menangani berbagai masalah dan menyiapkan mereka untuk menyelesaikan berbagai masalah yang kelak mereka akan temui sebagai orang dewasa di tengah masyarakat demokratis”.

John Dewey, Profesor asal Amerika, menerapkan jawaban tersebut dan mengubahnya menjadi gerakan yang sangat popular dan kemudian berkembang dua aliran yaitu:

yang pertama mengatakan pendidikan harus berpusat pada anak dan kurikulumnya harus dirancang berdasar kebutuhan pribadi setiap anak.
Yang kedua adalah “ berpusat pada masyarakat” yang menganggap tujuan utama pendidikan adalah merekonstruksi masyarakat.
kegiatan belajar
Bentuk-bentuk pendidikan alternative sudah demikian beragam mengikuti perkembangan zaman. Yang mungkin perlu dikembangkan adalah pembentukan komunitas-komunitas pembelajar yang ada di lingkungan msyarakat.Hal ini yang dilakukan oleh TPA Alhusna Alternative Education ( AA Edu ) Graha Pondok Jagung 2 Graha Raya Bintaro Tangerang Selatan. melalui pendidikan alternative berbasis masyarakat.

Advertisements

Membangun komonitas IQRA’ Masjid Al-Husna

Bagi sebagian orang duduk di Masjid kemudian mengadakan pengajian baca Al-Qur’an adalah sesuatu yang biasa dan mudah tapi dibeberapa tempat kegiatan seperti itu menjadi kegiatan yang sulit untuk dilakukan apalagi dilakukan berjama’ah atau bersama-sama inilah yang menjadi alasan kami pengurus TPA Al-Husna untuk memulai sebuah pengajian IQRA’ khusus untuk Bapak-Bapak. Beberapa rencana disiapkan dengan mempertimbangkan acara ini bisa terwujud.
1. Masyarakat Graha Raya rata-rata berusia muda yang memiliki mobilitas tinggi sehingga dibutuhkan waktu yang tepat dan singkat.
2. dibutuhkan seorang panutan yang bisa diterima oleh masyarakat.
3. walaupun tidak penting tetapi perlunya “penggembira” walaupun hanya tem manis.
dengan beberapa pertimbangan tersebut maka kami memulai pengajian IQRO’ untuk Bapak-Bapak Masjid Al-Husna setiap ba’da Magrib diawali sholat berjama’ah dan diakhiri jama’ah Isya’ dilanjutkan diskusi ringan, santai ditemanin teh manis dan makanan ringan hasil kerjasama yang baik dengan Ibu-Ibu. sebuah ide sederhana yang diharapkan menjadi solosi untuk membangun komonitas IQRA’ yaitu sebuah komonitas yang senantiasa mau belajar untuk memperbaiki diri saling menginggatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Pelan tapi pasti komonitas ini akan terus berjalan dan diharapkan tahun ini bisa mewisuda santri terbaiknya. Amien Insya ALLAH

Catatan dari dialog interaktif ” Bagaimana mendidik anak mencintai Al Quran”.

” Menurut saya, pendidikan yang berbasis agama bisa juga menjadi berbahaya jika aspek kognitif terlalu ditekankan, misalnya doa-doa hafalan seperti di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), kalau anak nggak bisa lalu disabet sehingga membuat mereka ketakutan. Seorang kepala TPA di Kalimantan Selatan yang ikut pelatihan sekolah karakter langsung nangis mengingat metode pendidikannya selama ini. Akhirnya kami mulai masuk juga ke TPA dengan meningkatkan sistem mereka menjadi TK nonformal. Belajar Al-Quran kan juga bisa dengan suasana yang menyenangkan, misalnya dengan menyanyi lebih dulu.”

Diatas tadi adalah pernyataan dari Ibu Ratna Megawangi seorang praktisi pendidikan yang saya kutip dari situs milik Pak Wijaya Kusumah. Pernyataan diatas adalah cuplikan dari wawancara dengan beliau mengenai  arah pendidikan di Indonesia.

Read more »

Dialog Interaktif ;”Bagaimana mendidik anak mencintai Al Quran.”

Jika anda adalah orang tua, pemerhati pendidikan dan praktisi pembelajaran Al quran untuk anak. Kami mengundang anda semua untuk hadir pada

Hari dan tanggal                : Sabtu, 25 Oktober 2008/ 24 Syawal  1429 H

Waktu                                   : 9.00 sampai 11.30

Bertempat di                     : Masjid Al Husnaa Graha Pondok Jagung 2 Graha Raya Serpong

Tema                                     : “Mendidik anak mencintai Al Quran”

Pembicara                           : Ustadz H. Sa’dulloh SQ

  • Penulis buku 9 cara praktis menghafal Al Quran
  • Hafidz terbaik internasional di Mekah dan di Yordania (MTQ Internasional 1995 dan 2000)
  • Pengasuh Madrasah Tahfidz PP Hikamussallafiah Sumedang Jawa Barat

Read more »